Professor Yang direkrut untuk
Menjangkau Muslim Malah Mengguncang Islam
Teori dari teolog Islam: Kemungkinan Besar Nabi
Muhammad Tidak Pernah Ada
Muhammad Sven Kalisch
MüNSTER Jerman — Muhammad Sven Kalisch,
seorang petobat yang masuk Muslim dan professor teologi Islam pertama di Jerman
berpuasa selama bulan suci Muslim, tidak suka berjabat tangan dengan perempuan
Muslim dan telah bertahun-tahun mempelajari Kitab Suci Islam. Islam, katanya,
adalah pedoman hidupnya.
Satu yang mengejutkan ketika Prof. Kalisch mengumumkan
hasil riset teologisnya. Kesimpulannya: Nabi Muhammad kemungkinan tidak pernah
ada.Tidak mengejutkan kalau Kaum Muslim marah besar. Bahkan kartunis Denmark
yang memicu protes global beberapa tahun lalu pun tidak memandang sang Nabi sebagai
tokoh fiksi. Polisi Jerman yang khawatir akan reaksi keras, meminta si profesor
untuk memindahkan pusat studinya ke tempat yang lebih aman
“Kami tidak tahu kalau dia akan memiliki gagasan
seperti itu,” kata Thomas Bauer, rekan sesama akademisi di Münster University
yang duduk dalam komisi yang telah mengangkat Prof. Kalisch. “Saya lebih
ortodoks dari pada beliau, namun aku bukan Muslim.”
Saat Prof. Kalisch menduduki jabatan profesor teologi
empat tahun lalu, dia dipandang sebagai bukti bahwa kaidah keilmuan Barat dan
metode Islam dapat berdampingan sehingga membendung pengaruh pengkhotbah
radikal di Jerman. Dia mengelola program baru di Münster yang merupakan salah
satu universitas tertua dan dihormati di Jerman, untuk melatih guru sekolah
pemerintah mengajar siswa muslim tentang imannya.
Pemimpin Muslim gembira dan bergabung dalam dewan
penasehat pada Center for Religious Studies. Para politikus memuji
penunjukkannya sebagai tanda kesediaan Jerman untuk menyerap sekitar tiga juta
Muslims ke dalam masyarakat secara umum. Namun menurut Andreas Pinkwart,
menteri yang membawahi pendidikan tinggi di bagian Utara Jerman, “hasilnya
mengecewakan.”
Prof. Kalisch, yang mati-matian mengatakan bahwa dia
masih Muslim, mengatakan dia mengetahui bahwa dia akan mendapat masalah namun
dia ingin agar Islam pun diteliti secara cermat seperti halnya Kekristenan dan
Yudaisme. Para ilmuwan Jerman abad 19, katanya, merupakan orang pertama yang
mempertanyakan keakuratan historis Alkitab.
Banyak sarjana Islam mempertanyakan keakuratan tulisan
kuno tentang kehidupan Muhammad. Biografi Muhammad terawal (dimana salinannya
tidak ada), berasal dari kira-kira satu abad setelah tahun yang diterima
sebagai tahun kematian Muhammad (tahun 632), dan hanya diketahui lewat
referensi terhadap teks-teks ini dalam naskah yang lebih kemudian. Namun hanya
beberapa ilmuwan yang meragukan keberadaan Muhammad. Kebanyakan dari mereka
mengatakan bahwa kehidupannya lebih banyak tercatat dari pada kehidupan Yesus.
“Tentu saja Muhammad ada,” kata Tilman Nagel, seorang
sarjana di Göttingen dan penulis sebuah buku baru berjudul, “Muhammad: Life and
Legend.” Sang Nabi berbeda dari seorang yang tidak bersalah yang diakui dalam
tradisi Islam, kata Prof. Nagel, namun “cukup aneh kalau kita mengatakan bahwa
beribu-ribu halaman tulisan tentang Muhammad dianggap sebagai penipuan ” dan
menganggap bahwa Muhammad tidak pernah ada
Sementara itu, Prof. Nagel menandatangani petisi untuk
mendukung Prof. Kalisch yang mendapat kritikan tajam dari kelompok Muslim dan
beberapa akademisi sekuler Jerman. “Kami hidup di Eropa,” Kata Prof. Nagel.
“Pendidikan terkait dengan pemikiran, bukan hanya menghafal
Pusat studi religius yang dipimpin baru-baru ini
dibubarkan dan alamatnya dihapus dari Web sitenya. Sang professor berbadan
tegap yang berusia 42 tahun itu mengatakan bahwa dia tidak menerima ancaman
khusus tetapi dipandang sebagai seorang murtad, yang merupakan pelanggaran yang
diganjar hukuman mati dalam Islam
“Mungkin orang akan berspekulasi bahwa beberapa idiot
akan datang dan memancung kepala saya,” katanya dalam sebuah wawancara tentang
studinya
Beberapa menit kemudian seorang asisten datang dengan
panik untuk memberitahu bahwa sebuah jam digital mencurigakan ditemukan di
gang. Polisi yang dipanggil ke tempat kejadian mengatakan bahwa jam itu tidak
berbahaya.
Masuk islam pada usia 15 tahun, Prof. Kalisch
mengatakan bahwa dia menjadi Islam karena tampknya lebih rasional dari pada
yang lain. Dia memeluk Islam Syiah yang dikenal cenderung skeptis. Setelah
tidak lama bekerja sebagai pengacara, dia mulai melakukan penelitian pasca
doctoral tahun 2001 tentang Hukum-Hukum Islam di Hamburg untuk melewati proses
rumit yang dibutu*kan agar menjadi professor di Jerman.
Serangan 11 September di Amerika Serikat mengguncang
Kalisch namun itu tidak mengurangi kesetiaannya. Malah setelah dia tiba di
Münster University tahun 2004, dia dianggap terlalu konservatif. Sami Alrabaa,
seorang ilmuwan di kolese terdekat mengingat kuliah yang diberikan oleh Prof.
Kalisch dan merasa terganggu oleh pembelaannya yang doktriner terhadap hukum
Islam yang dikenal sebagai Syariah.
Dalam percakapan pribadi dia bergerak ke arah berbeda.
Dia membaca tulisan-tulisan yang mempertanyakan keberadaan Abraham, Musa dan
Yesus. Lalu “Saya berkata pada diri sendiri: Kamu telah mengkritik Kekristenan
dan Yudaisme namun bagaimana dengan agamamu sendiri? Bolehkan kamu
mengasumsikan bahwa Muhammad memang sebenarnya ada?”
Pertama-tama dia tidak ragu-ragu, namun keraguan
muncul perlahan-lahan. Dia terkejut, katanya, oleh kenyataan bahwa uang logam
yang mencantumkan nama Muhammad baru muncul pada abad ketujuh yaitu sekitar
enam dekade setelah agama itu muncul.
Dia bertukar pikiran dengan bebarapa ilmuwan di
Saarbrücken yang beberapa tahun ini menyebarkan gagasan tentang ketiadaan
Muhammad. Mereka mengklaim bahwa “Muhammad” bukan nama orang tetapi nama
jabatan, dan Islam dimulai sebagai ajaran sesatnya Kekristenan.
Prof. Kalisch tidak mempercayai semua gagasan itu.
Dalam kontribusinya tahun lalu untuk sebuah buku tentang Islam, dia juga mempertimbangkan
gagasan aneh dan menyebut keberadaan Muhammad “lebih mugkin dari pada tidak
sama sekali.” Namun awal tahun ini, pikirannya berubah. “Semakin banyak saya
membaca, keberadaan tokoh historis yang menjadi akar dari semua ini menjadi
semakin tidak mungkin,” katanya
Beberapa mahasiswanya mengkhawatirkan arah
pengajarannya. “Saya mulai berpikir kalau-kalau nantinya dia meragukan
keberadaan dirinya sendiri dan mengatakan bahwa dia tidak ada,” kata salah satu
din atara mereka.
Beberapa mahasiswa memboikot kuliahnya. Sementara itu
yang lainnya memuji beliau.
Prof. Kalisch mengatakan bahwa dia “tidak pernah
mengatakan pada mahasiswanya ‘percaya saja semua yang dikatakan Kalisch’;” dia
mengajar mereka berpikir secara independen. Agama, katanya, merupakan “tongkat”
yang membantu orang percaya mendapatkan “kebenaran spiritual di baliknya.” Bagi
si professor, yang penting bukanlah masalah Muhammad pernah hidup atau tidak
tetapi filsafat yang disajikan menggunakan namanya
Musim panas ini pertikaian pendapat ini masuk berita
utama. Surat kabar Jerman berbahasa Turki melaporkan hal ini dengan penuh
semangat. Media di dunia Muslim mengangkat isu ini.
Dewan Koordinasi Islam Jerman menarik diri dari badan
penasehat pusat studi yang dimpin Prof. Kalisch. Bebarapa anggota Dewan menolak
memanggilnya dengan nama Islamnya, Muhammad, dan mengatakan bahwa dia harus
dipanggil Sven mulai saat itu.
Dunia Akademi Jerman terpecah. Michael Marx, ahli
Kuran di Berlin-Brandenburg Academy of Sciences, memperingatkan bahwa pandangn
Prof. Kalisch’s akan mendiskreditkan kesarjanaan Jerman dan mempersulit ahli
Jerman bekerja di daerah Muslim. Namun Ursula Spuler-Stegemann, seorang sarjana
Islam di University of Marburg, membuat sebuah situs yang disebut solidaritymuhammadkalisch.com
dan mulai sebuah petisi online untuk mendukung [Kalisch].
Gusar karena upaya perintisan untuk menjangkau Muslim
memancing api tantangan, Münster University memutuskan untuk memadamkan api
itu. Prof. Kalisch diberitahu bahwa dia boleh tetap menjadi professor tetapi
dia harus berhenti mengajar tentang Islam bagi calon guru agama
Sang professor mengatakan bahwa dia menjadi lebih
bersemangat dari sebelumnya untuk terus mendalami imannya. Dia sedang
menyelesaikan sebuah buku yang menjelaskan pemikirannya. Buku tersebut
berbahasa Inggris bukan Jerman karena dia ingin bukunya membawa dampak yang
lebih besar. “Saya yakin bahwa saya perlu melakukan apa yang sementara saya
lakukan saat ini. Harus ada diskusi tentang Islam,” katanya
Almut Schoenfeld di Berlin berkontribusi dalam
penulisan artikel ini. Artikel berbahasa Inggris dapat diakses pada situs ini yang akses terakhir 20 Desember
2010, 21.01 WIB
Update: sepertinya saat ini si profesor
sudah meninggalkan islam. Bagaimanapun, dia masih muslim saat artikel ini
ditulis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar