Petugas rezim Korea Utara merazia toko-toko yang
menjual salib, simbol kekristenan, yang dahulu digunakan sebagai tempat Yesus
dihukum oleh kaum Yahudi.
Bahkan, seperti dilaporkan Daily Express,
Sabtu (6/8/2016), anak-anak sekolah pun harus berhati-hati ketika menulis
“tambah” (+) saat belajar matematika agar tidak menyerupai salib.
Saking paranoid terhadap salib, semua produk yang
menyerupai salib (dua barang yang bersilang), seperti dasi kupu-kupul, penjepit
rambut, dan bando, serta motif baju, pun disita.
Tindakan tidak populer oleh rezim pemimpin muda Korut, Kim
Jong Un, itu dilakukan sebagai upaya untuk memberhangus orang-orang Kristen dan
kekristenan.
Para pejabat pemerintah sudah dan sedang disebar untuk
menyita salib dan semua barang yang menyerupai salib itu, termasuk label pada
kertas atau gambar, yang dijual di toko.
“Siswa bahkan telah diberitahu untuk berhati-hati
bagaimana mereka seharusnya menulis tanda “tambah” (+) matematis agar jangan
sampai keliru seperti salib,” tulis media Inggris itu.
Alat penjepit pakaian dan rambut pun diperiksa,
sebagai bagian dari tindakan tegas untuk meniadakan semua simbol agama Kristen
itu.
Salah satu pedagang di Pyongyang mengatakan kepada
Radio Free Asia, “Kami selalu berusaha untuk memastikan tidak ada karakter
Korea pada label-label produk yang kami bawa dari China”.
“Sekarang kami diharuskan untuk mengecek ulang untuk
memastikan bahwa tidak ada sesuatu yang terlihat seperti salib,” tambahnya.
“Beberapa desain pada pakaian wanita dapat terlihat
seperti sebuah salib, tergantung pada siapa yang akan melihatnya,” katanya.
“Tanda-tanda salib juga tampak pada penjepit rambut,
bando, dan dasi kupu-kupu pada pria,” kata pedagang itu yang merasa heran
dengan sikap paranoid pejabat itu.
“Semua produk tersebut sangat mungkin disita selama
ada sidak dari pejabat pemerintah,” ujarnya lagi.
Korut sejak awal telah dijuluki sebagai negara paling
berbahaya di dunia bagi orang Kristen.
Rezim despotik Kim Jong Un dilaporkan telah
menerapkan hukuman paling keras terhadap orang-orang Kristen.
Ribuan Kristen menghadapi penangkapan, penyiksaan,
penjara dan hukuman mati.
Sejauh ini setidaknya 70.000 orang Kristen telah
dijebloskan ke dalam tahanan atau masuk ke kamp kerja paksa di Korut karena
mempertahankan iman dan keyakinannya.
Mereka bahkan dipaksa untuk mengingkari keyakinan
untuk memuja berhala, atau akan disiksa hingga tewas.
Ada banyak rupa-rupa kekerasan terhadap kekristenan di
negara ini. Peningkatan kekerasann terhadap Kristen sejak Jong Un melarang tindikan
dan pakaian bergaya Barat.
Lembaga karitas Open Doors mengatakan,
lembaga karitas Kristen tetap bekerja di “bawah tanah” untuk menghindari
tekanan dari rezim.
Media sulit mengonfirmasi pejabat berwenang di
Pyongyang karena negara ini juga tertutup dan keras terhadap media serta
melarang kegiatan jurnalistik yang dinilai merugikan rezim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar